Menikmati Pesona Gunung Bungsu Lewat Udara
![]() |
| Salah seorang glider di pendaratan |
Dengan keindahan khas perbukitan hijau dan pesawahan yang ditawarkan, Gunung Bungsu di Nagari Taehbukik, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten 50 Kota seakan menyebar undangan kepada semua pecinta alam untuk menikmati lekuk-lekuk bumi dari udara dengan berpalayang. Di Bukit Bungsu, paralayang bukan lagi sekedar olahraga pemacu adrenalin tapi juga bersahabat dengan angin, mengudara sembari menikmati keindahan ciptaan Tuhan dari udara yang akan menimbulkan sensasi luar biasa. “Sensasi yang dirasakan saat terbang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata,” ungkap salah seorang glider (atlet paralayang) yang rutin terbang di Bukit Bungsu. Bagaimana ceritanya?
Terletak disisi utara Kabupaten Limapuluh Kota dengan jarak lebih kurang 15 km dari pusat Ibu Kota Kabupaten Gunung Bungsu yang kini jadi primadona para glider untuk terbang. Potensi yang ditawarkan gunung yang memiliki ketinggian 1.253 meter diatas permukaan laut ini cukup besar, meski tidak setinggi gunung pada umumnya, tapi Gunung Bungsu memiliki banyak keistimewaan, terutama untuk penggemar olahraga ekstrim, seperti paralayang.
Di Sumbar sendiri, Gunung Bungsu merupakan satu-satunya tempat untuk menggelar lomba paralayang. Berbagai lomba paralayang sudah pernah dilaksanakan di situ, mulai dari tingkat Nasional sampai ke-tingkat Internasional. Area Gunung Bungsu memiliki lokasi landing yang luas, terbuka, dan tidak ada tebing bukit-bukit maupun kayu besar yang menghalangi, kondisi alamnya juga tidak terlalu ekstrim, sehingga memungkinkan glider untuk memutar arah, jika arah angin berubah. Di luar itu semua, Gunung Bungsu menyuguhkan keindahan Panorama pegunungan dengan sirkulasi angin yang baik dan mampu membuat para glider terpesona, bahkan peserta lomba bisa berulang kali terbang sembari menikmati keindahan alam.
![]() |
| Terbang menikmati pahatan Ilahahi |
Meski merupakan tempat yang ideal untuk tempat kejuaraan paralayang, Guunung Bungsu tetap menawarkan sensasi untuk wisatawan yang ingin merasakan sensasi mengudara dengan ditandem oleh para glider profesioanal yang selalu siap membawa wisatawan untuk memandang bumi dari ketinggian di angkasa raya. Untuk sekali terbang biasanya wisatawan dikenakan biaya Rp 250 ribu.
Salah seorang glider, Nicky Afianto yang merupakan anggota Fast Club Limo Puluh Kota, mengaku tidak pernah merasa bosan setiap kali terbang dari Gunungbungsu, ada sensasi berbeda yang dirasakannya setiap kali terbang dari gunung yang oleh masyarakat sekitar cukup disakralkan tersebut.
“Bagaimana ya? Sensasi yang dirasakan saat terbang itu tidak bisa digambarkan dengan kata,” jelasnya singkat.
Selain bisa memandang pesawagan dibayangi bukit-bukit kecil nan hijau, apabila bisa mencapai ketinggian maksimal, maka mata glider akan semakin dimanjakan oleh pemandangan luar biasa.
“Kalau ketinggian maksimal, kita akan bisa melihat ukiran dinding tebing Lembah Harau,” sambung Nicky.
![]() |
| Pesona yang ditawarkan Gunung Bungsu seakan membius para glider |
Keindahan dan pesona alam itulah yang seringkali membuat penerbang tidak pernah bosan untuk berkali-kali terbang dari Gunungbungsu. Ditambah lagi, komunitas paralayang Fast Club Limo Puluh Kota selalu rutin terbang setiap Sabtu dan Minggu.
“Setiap miggunya pasti ada saja yang terbang dari Gunungbungsu, mulai dari glider profesional sampai dengan wisatawan yang terbang tandem,” pungkasnya.
Terpisah, Ketua Harian Fast Club Limo Puluh Kota, Dodo Koerdi yang merupakan pelatih pelatih paralayang senior asal Limapuluh Kota melihat perkembangan olahraga paralayang di kabupaten ini cukup besar dan itu tidak lepas dari keberadaan Gunung Bungsu sebagai tempat terbang yang sangat mendukung, baik untuk kejuaran maupun untuk terbang pariwisata.
“Sabtu dan Minggu di Gunung Bungsu ada 14 sampai 20 glider yang terbang,” terang pelatih yang namanya sudah menasional ini.
Dodo Koerdi menambahkan, Gunung Bungsu sudah cukup sering mengadakan lomba paralayang, mulai dari tingkat daerah, Nasional, bahkan sampai dengan tingkat Internasional.
“Karena di Sumbar, satu-satunya lokasi yang mendukung untuk menggelar kejuaraan paralayang itu adalah di Gunung Bungsu,” ujarnya bangga dengan keberadaaan Gunung Bungsu.
Untuk terbang pariwisata, Dodo Koerdi mengaku, dengan pesona alam yang dimiliki Gunung Bungsu seharusnya pariwisata paralayang di situ bisa lebih maju lagi. Karena, hamparan pesawahan dengan perbukitan hijau akan memanjakan indra wisatawan yang terbang.
“Sudah cukup banyak wisatawan yang datang untuk terbang tandem, terutama wisatawan dari Pekanbaru. Tapi harus diakui, promosi wisata paralayang Gunung Bungsu masih belum maksimal,” pungkasnya. (***)
Tips Olaharaga Paralayang Untuk Pemula dan Wisatawan
1. Harus memiliki pemandu yang sudah memiliki sertifikat resmi, karena paralayang masuk dalam kategori olahraga ekstrem yang sangat mengutamakan keselamatan penerbang.
2. Perlengkapan harus benar-benar siap, mulai dari sayap, pengikat, variometer, radio, sistem posisi umum, dan perlengkapan lain dalam kondisi baik.
3. Kondisi cuaca juga harus mendukung. Jangan pernah melakukan olahraga ini jika kondisi cuaca sedang hujan atau kondisi cuaca yang buruk.
4. Cari lokasi latihan yang tidak terlalu ekstrim.
5. Tempat pendaratan harus jelas dan bisa dijangkau dengan mudah.
6. Untuk terbang tandem, wisatawan harus pakai sepatu dan enjoy saat terbang, semantara peralatan lain disediakan dari klub.



0 komentar:
Posting Komentar