Dua Bulan Lagi Pensiun, Dikenal Kebapakan dan Disiplin
 |
| Foto: Republika |
Tewasnya sopir bus kampus Unand, Asril Jailani, 58, tidak hanya meninggalkan duka untuk keluarga yang ditinggalkan. Kesedihan yang cukup mendalam juga dirasakan rekannya sesama sopir. Sifatnya yang terbuka dan sering memberikan nasihat kepada juniornya, membuat kepergian pria yang dua bulan lagi akan pensiun tersebut dirasakan oleh segenap sopir kampus yang akan ikut mengantarkan jenazah ke kampung halamannya, di Taeh, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten 50 Kota itu?
Halaman depan ruang Unit Gawat Darurat (UGD) Rumah Sakit Umum Provinsi (RSUP) M Djamil yang dari awal sudah gaduh dan penuh sesak oleh para pengunjug yang ingin mengetahui kondisi keluarga maupun rekan-rekan sesama mahasiswa dibuat semakin gaduh begitu sekelompok laki-laki memaksa masuk ruangan saat sebuah ambulance parkir tepat di depan pintu UGD.
“Izinan la kami maliek apak kami sabalum dibaok (izinkan kami melihat bapak kami sebelum dia dibawa),” teriak seorang pria berbadan tambun diantara kerumnan masa yang memadati ambulan yang datang.
Pria itu adalah satu dari puluhan rekan sesama sopir bus kampus, Asril Jailani, yang menghembuskan nafas terakhir sekitar pukul 20.40. Luka di kepala dan bagian dada Asril cukupparah sehingga dokter tidak bisa menyelamatkan nyawa pria yang paling dituakan
Kepada penulis pria tambun yang mengaku bernama Eka Putra tersebut mengaku sudah mengenal, Asril Jailani atau oleh kawan-kawan sesama sopir akrab dipanggil Da In tersebut dari tahun 2002. Menurutnya, almarhum merupakan sosok yang sangat disiplin dengan peraturan, dia tidak pernah mau menaikkan ataupun menurunkan mahasiswa kalau tidak di halte.
“Meski sering dikritk mahasiswa karena disiplinnya yang tinggi tersebut tapi Da In tetap tidak mau jika harus menurunkan mahasiswa kalau bukan di halte,” jelas Eka sembari mengusap airmata yang mengalir di pipinya.
Sepengetahuan Eka, Da In meninggalkan beberapa orang anak yang masih kecil, beruntung beberapa anaknya juga sudah besar, bahkan ada yang sudah menamatkan kuliah dan selama ini sering membantu Da In untuk memberikan nafkah kepada keluarganya.
“Saya yakin tidak ada masalah dengan mobilnya karena pukul 9.00 pagi tadi (kemarin, red) saya masih naik mobilya. Dia juga tidak pernah ngebut membawa mobil, bahkan tidak dia tidak pernah mendekati limit kecepatan maksimal, yaitu 25 kilo meter/jam,” pungkasnya.
Rekan lain Da In, Asmin, 45, mengatakan rekannyaa tersebut sudah seperti sosok ayah oleh kawan-kawan sopir yang lain.
“Dia sering memberikan kami nasihat dengan cara yang tidak menggurui. Dia sudah seperti ayah kami semua,” jelasnya singkat.
Alfian, rekan Da In yang juga telah cukup lama mengenal pria penyabar tersebut, mengaku tidak percaya dengan kabar yang didegarnya, apalagi dua bulan ke depan pria yang sudah dianggapnya sebagai ayah tersebut akan pensiun.
“Dia sudah bekerja sebagai sopir dari tahun 80-an, tapi dia tidak pernah menampakkan senioritasnya kepada kami semua, dia memperlakukan kami seperti anak-anaknya,” jelas pria bertopi tersebut.
Alfian menambahkan, yang akan sangat sulit dilipukan dari sosok almarhum adalah kebiasaannya memberi nasihat kepada sopir-sopir baru.
“Ada sekitar 25 sopir yang akan ikut mengantar almarhum ke Payakumbuh, tepatnya Nagari taeh,” jelas Alfian yang juga akan ikut serta bersama rombongan.
Sopir bus kampus lainnya, Aprionto, megakui lokasi terjadinya kecelakaan memang cukup rawan dan setiap sopir harus ekstra hari-hati ketika lewat jalan itu.
“Di situ terdapat tikungan ditambah lagi turunan dan kondisi jalan juga membuat kami harus ekstra hati-hati ketika lewat,” terang Aprianto singkat (***)